Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup yang
begitu cepat, masih ada sesuatu yang tetap menjadi penanda kuat jati diri
perempuan Buol. Haruas, kain yang melilit kepala dengan anggun ini bukan
sekadar penutup aurat, tetapi simbol nilai, kehormatan, dan identitas budaya
yang diwariskan turun-temurun.
Bagi sebagian orang luar, Haruas mungkin hanya tampak
sebagai bagian dari busana tradisional. Namun, bagi perempuan Buol, Haruas
lebih dalam maknanya. Ia mencerminkan kesopanan, kelembutan, sekaligus
keteguhan hati. Saat seorang perempuan mengenakan Haruas, ia seakan membawa
pesan dari leluhur bahwa kecantikan sejati tidak hanya terletak pada rupa,
tetapi juga pada cara menjaga diri dan menghormati nilai-nilai kehidupan.
Kini, di era digital, banyak tradisi lokal yang mulai
pudar. Anak muda lebih akrab dengan mode dari luar ketimbang warisan daerahnya
sendiri. Namun, melihat sebagian perempuan Buol yang dengan bangga tetap
mengenakan Haruas di berbagai kesempatan dari acara adat hingga kegiatan
sehari-hari menunjukkan bahwa budaya ini belum sepenuhnya terkikis. Justru
Haruas menjadi bentuk perlawanan halus terhadap lunturnya identitas.
Lebih dari sekadar kain, Haruas adalah narasi tentang
perempuan Buol yang tangguh. Ia mengajarkan keseimbangan antara ketaatan
dan kebebasan, antara menjaga tradisi dan beradaptasi dengan zaman. Setiap
lipatan kainnya menyimpan kisah tentang keteguhan seorang ibu, kelembutan
seorang istri, dan keteladanan seorang anak perempuan yang tumbuh dengan
nilai-nilai luhur.
Menjaga Haruas berarti menjaga martabat perempuan Buol. Ia
bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan pelita yang menerangi langkah
perempuan masa kini. Dalam setiap helainya, tersimpan pesan abadi, nilai,
kehormatan, dan kebanggaan tak akan lekang oleh zaman selama masih ada
perempuan Buol yang percaya pada makna Haruas.
Ayo ikut berkontribusi untuk Buol melalui tulisan!
Kirimkan naskah berita atau opini terbaik Anda kepada kami.
Cantumkan subjek email: BERITA atau OPINI.
Semua naskah akan melalui proses seleksi dan penyuntingan sebelum diterbitkan.
Tidak dipungut biaya publikasi.
Semua tulisan dikirim melalui email resmi redaksi dan diterima langsung dari penulis,
tanpa melalui perantara atau atas nama tim manapun.
Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengubah substansi.